Minggu, 01 Juli 2018

Renungan Minggu Ketiga Juni 2018


ARAH YANG SEBENARNYA
      Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
(Yeremia 29:11)

Pohon mangga cangkokan itu tumbuh pesat. Batang lencirnya dikelilingi dedaunan. Tak ingin dia tumbuh menjulang, saya memotongnya. Sempat tebersit rasa menyesal, saat pertumbuhannya tampak terhenti. Namun, kira-kira sepekan sesudahnya, tiba-tiba muncul berbarengan lima buah tunas di ujung atas batang. Bukan sekedar tunas daun, melainkan tunas cabang yang kemudian menumbuhkan daunnya sendiri-sendiri. Kini, pohon mangga itu menjadi lebih rimbun daripada sebelumnya. Saat pertumbuhannya ke atas dihentikan, pohon itu memaksimalkan perkembangannya ke samping. 
Saulus dari Tarsus dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel. Ia bekerja sangat giat bagi Allah (ay. 3). Ia menganiaya dan membinasakan para pengikut Jalan Tuhan yang dianggapnya melanggar Hukum Taurat. Dalam rutenya menuju Damsyik, ia bersua dengan Yesus. Jalan hidup yang ditempuhnya dengan tekun selama ini terpotong begitu saja. Namun, itu justru menjadi titik balik dalam kehidupannya. Sejak hari itu ia bertumbuh luar biasa dan menggenapi panggilan yang sejati dari Allah baginya.
Hidup kita ada kalanya terasa seperti dipotong di tengah jalan. Rencana yang sudah kita susun lama dan terarah kepada satu tujuan tiba-tiba harus putus begitu saja. Namun, berhenti melangkah tidak selalu berarti akhir dari perjalanan kita. Mungkin saja itu adalah cara Tuhan untuk membuat kita fokus kepada panggilan kita yang sesungguhnya. Mungkin, inilah saatnya kita memaksimalkan segenap potensi kita ke arah yang sebenarnya.


KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA BUKAN DIMULAI KETIKA BERADA DI TITIK ZONA KENYAMAN TETAPI JUSTRU KETIKA BERADA DI UJUNG ZONA KENYAMANAN HIDUP
 

Sabtu, 09 Juni 2018

Renungan Minggu Kedua Juni 2018



HIDUP DALAM KEKUATAN TUHAN
Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya
( Efesus 6:10 )

Setiap manusia pasti memiliki keterbatasan, sebab hanya Tuhan yang tidak terbatas. Salah satu keterbatasan manusia adalah kekuatan. Manusia memiliki kekuatan yang terbatas. Oleh sebab itu saat menghadapi masalah adakalanya kita merasa tidak berdaya dan merasa lemah. Namun di saat kita mulai lemah, jangan berputus asa. Datanglah kepada Tuhan karena hanya di dalam Tuhan akan kita dapatkan kekuatan yang baru. Percayalah bahwa di dalam kelemahan kita, kekuatanNya menjadi nyata atas kita.
Yang perlu kita lakukan yaitu tetap melekat pada Yesus. Setiap kita perlu melekat kepada Tuhan sebagai pokok anggur, Yohanes 15:5 mengatakan bahwa di luar Dia kita tidak akan dapat berbuat apa-apa, sebab itu kita perlu tetap melekat kepada Yesus sebagai sumber kehidupan kita. Jangan menjauh dari Tuhan supaya kita tetap dapat bertahan. Kekuatan Tuhan itu sempurna.
Kekuatan Tuhan kita temukan saat kita berdiam diri di hadapanNya. Yesaya 30:15  mengatakan bahwa di dalam tinggal tenang itulah letak kekuatan kita. Jadi pada saat kita sedang mengalami masalah, jangan menjadi panik atau berusaha lari dari persoalan, sebaliknya datanglah pada Tuhan. Jadilah tenang serta berdiam diri di hadapanNya supaya kita mendapatkan kekuatan yang baru. Kekuatan Tuhan dapat kita temukan pada saat kita berdiam diri di hadapanNya.
Kita juga akan mendapat kekuatan pada saat membaca Firman Tuhan. Di dalam FirmanNya terkandung janji Tuhan yang akan memberikan kita kekuatan yang baru. Janji Tuhan pasti akan digenapi, dan dengan demikian iman kita kembali dikuatkan. Setiap hari kita perlu merenungkan Firman supaya kekuatan kita selalu diperbaharui.
Begitu pula saat kita memuji dan menyembah Tuhan, kita akan beroleh kekuatan yang baru sebab Tuhan bertahta atas setiap pujian umatNya. Ketika kita lemah, maka pujian dan penyembahan yang kita naikkan dapat menguatkan iman kita kembali. Bahkan kita harus senantiasa bersukacita di dalam Yesus sebab sukacita dari Tuhan adalah kekuatan kita. Walaupun kita sedang menghadapi masalah, kita harus belajar bersukacita, sebab Tuhan selalu baik. Jangan menjadi lemah karena persoalan yang terjadi. Yakinkah bahwa di balik masalah, ada rencana Tuhan serta berkatNya bagi kita. Apapun yang kita alami hari ini kita harus tetap teguh dan kuat di dalam iman. Jangan merasa lemah. Percayalah bahwa di dalam Yesus akan selalu ada kekuatan yang baru.

Minggu, 03 Juni 2018

Renungan Minggu Kedua Mei 2018


GEREJA YANG DIPENUHI ROH KUDUS   
Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
 ( Epesus 5 : 18 )

     Apa yang dimaksud dengan  dipenuhi Roh Kudus? Ada beberapa orang mengartikan, jika seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus akan ditandai dengan bahasa Roh; jika seseorang sudah berbahasa Roh, maka dia sudah dipenuhi oleh Roh Kudus. Dalam realitanya kita jumpai banyak anak anak Tuhan yang sering kali berkata dipenuhi oleh Roh Kudus, tetapi hidupnya tidak kudus. Ternyata apa yang yang menjadi pengalaman seseorang, tidak dapat dijadikan sebagai standar kebenaran.
Pengertian orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah: satu, karakteristik normal bagi orang kristen yang saleh, seperti Barnabas (Kis. 11:24). Kedua, perlengkapan bagi seseorang untuk melakukan tugas khusus, seperti Yohanes Pembaptis (Luk. 1:15). Ketiga, sebagai perlengkapan sementara untuk suatu tugas langsung, khususnya yang mendesak bukan seumur hidup, seperti Elisabet (Luk 1:41). Semua kategori ini dipenuhi oleh Yesus.
Di dalam Perjanjian Baru tidak ada perintah untuk berbahasa Roh, tetapi Alkitab memuat  perintah kepada setiap orang Kristen, supaya hidup dipenuhi oleh Roh senantiasa (Efesus 5:18). Supaya hidup dipenuhi oleh Roh, maka kita harus selalu dekat dan bersandar kepada Kristus. Ciri-ciri orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah: Pertama,  bersifat moral bukan mujizat, dan menghasilkan Buah Roh (Gal. 5:22-23) bukan karunia-karunia Roh. Kedua, Memuji Tuhan dan mengucap syukur senantiasa.
Bagaimana dengan kita sebagai gereja-gereja Kristus? sudahkah kita mengucap syukur kepada Tuhan untuk keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita dan memperlengkapi kita sebagai umat-Nya untuk hidup kudus dan melayani Dia? Sudahkah kita menyaksikan siapa Kristus dalam hidup kita bukan hanya melalui perkataan, tetapi melalui tindakan nyata sehari-hari? Akhirnya orang akan melihat hidup kita yang memuliakan Tuhan dan menjadi serupa dengan Kristus.

Renungan Minggu Kesatu Mei 2018


ROH KUDUS - MINYAK URAPAN   
"Haruslah kaubuat semuanya itu menjadi minyak urapan yang kudus, suatu campuran rempah-rempah yang dicampur dengan cermat seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah; itulah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus."  Keluaran 30:25
( Keluaran 30 : 25 )

Di dalam Perjanjian Lama, minyak zaitun yang telah diramu dengan rempah-rempah dipergunakan untuk mengurapi benda-benda suci atau perabotan yang ada di Tabernakel atau rumah Tuhan, serta dipergunakan untuk mengurapi dan menahbiskan para imam yang melayani pekerjaan Tuhan, raja-raja dan termasuk pula nabi-nabi untuk setiap tugas yang dipercayakan kepadanya.  dalam hal ini minyak adalah juga lambang daripada Roh Kudus, berfungsi untuk mengurapi, menguduskan dan menyucikan.
Benda atau perabot yang telah diurapi minyak keberadaannya menjadi suci dan kudus.  Pula para imam, raja dan nabi yang menerima pengurapan minyak ini, selain dikuduskan dan disucikan, juga dilayakkan untuk menerima kuasa, beroleh jaminan penyertaan dan perlindungan dari Tuhan sehingga mereka beroleh kuasa untuk mengerjakan setiap tugas dan tanggung jawabnya di bawah kendali Roh Tuhan.  Ada pun pengurapan ini bukanlah inisiatif mereka sendiri melainkan dilakukan oleh seseorang yang telah dipilih dan ditunjuk Tuhan secara khusus.  Kita tahu sifat minyak adalah melicinkan, menghaluskan, membersihkan, sanggup menjangkau bagian-bagian yang tersembunyi, memberikan terang, mempertahankan nyala api dan juga menyembuhkan.  Itulah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup orang percaya!  Roh Kudus adalah minyak rohani serbaguna.
Minyak urapan adalah gambaran dari kehadiran Roh Kudus, Roh yang kuasanya tak terbatas yang bekerja dan menyertai pelayanan hamba-hamba Tuhan, sehingga melalui urapan-Nya ini orang yang sakit disembuhkan, yang terbelenggu kuasa gelap dibebaskan dan beroleh pemulihan.  Inilah nasihat Yakobus,  "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni."  (Yakobus 5:14-15).

MINYAK URAPAN ADALAH LAMBANG KEHADIRAN ROH KUDUS, YANG OLEH-NYA KITA MENGALAMI MUJIZAT!

Sabtu, 28 April 2018

Renungan Minggu Kelima April 2018


KEMENANGAN KRISTEN
Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau;
Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.
( Yesaya 41:10 )

Firman Tuhan mengatakan dalam hidup ini jangan pernah kita takut sebab Tuhan selalu beserta, menopang hidup kita dan  akan memberikan kemenangan kita sekalipun ada banyak persoalan, tetaplah bangkit dan maju. Jangan sampai hidup kita terkalahkan dengan  situasi yang terjadi,  sebab Dia yang bersama kita itu jauh lebih besar dari masalah yang kita alami. Dari semula rancangan Tuhan itu indah dan Ia menjadikan kita sebagai pemenang bahkan lebih dari pemenang, jadi tetaplah percaya bahwa dalam segalanya kita pasti akan menang. Jangan pernah ragu terhadap janji Tuhan sebab Dia pasti akan menggenapinya.
Syarat kita untuk dapat menerima kemenangan dari Yesus  yaitu hanya percaya, walaupun kenyataan belum berubah tetaplah memiliki rasa percaya bahwa Tuhan pasti menolong dan memulihkan keadaan kita. Percayalah bahwa Tuhan juga berkuasa melakukan perkara dan Ia mampu menolong kita. Oleh karenanya berfokuslah pada Tuhan lebih dari masalah kita, maka kita akan melihat kuasa Tuhan itu lebih besar dari semua. Saat kita hanya berfokus pada masalah, kita akan terpuruk dan semakin sulit melihat kuasa Tuhan. Percaya adalah salah satu kunci melihat kuasa Tuhan dan berbahagialah bagi kita yang percaya walaupun tidak melihat.
Milikilah ketaatan dan kerendahan hati, kita harus mengakui bahwa sebagai manusia memiliki banyak kelemahan dan tentunya  kita membutuhkan kuasa Tuhan yang besar untuk memulihkan serta memberikan kemenangan bagi kita. Taatilah setiap perintahTuhan karena ini akan membawa kita kepada kemenangan. Berserah pada Tuhan namun jangan menyerah dengan keadaan yang ada.
Dalam hidup ini kita perlu memiliki  mental dan sikap sebagai seorang pemenang yang artinya tidak mudah pesimis namun selalu maju untuk meraih kemenangan. Bahkan tetaplah berdiri teguh di tengah situasi yang ada, sebab saat kita kuat kita akan melihat kemenangan yang datang dari Tuhan.
Apapun masalah kita saat ini percayalah kepada Tuhan sebab Ia tidak akan membiarkan kita bergumul sendirian namun  Yesus selalu memberikan kemenangan kepada kita.

Renungan Minggu Keempat April 2018


JADILAH DEWASA
Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.
 ( I Korintus 3 : 1 )
Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa di sekitar kita ada orang-orang kristen kanan-kanak atau biasa disebut orang kristen yang belum dewasa rohani. Alkitab mengajarkan kepada kita, pada saat Yesus datang kembali, Dia bukan lagi sebagai bayi, tetapi Dia datang sebagai Pengantin laki-laki sorgawi yang akan menjemput mempelai wanita-Nya.
Mempelai wanita ini berbicara mengenai  gereja yang dewasa atau kekristenan yang matang, bukan kekristenan yang kanak-kanak. Karena itu biarlah kita sebagai gereja Tuhan atau mempelai wanita sorgawi meninggalkan semua sifat kekristenan yang kanak-kanak dan menuju kepada kedewasaan yang penuh sebab Tuhan tidak menghendaki kita terus berada di dalam kekristenan yang kanak-kanak.
Jika kita berada di dalam kekristenan kanak-kanak dan tidak bisa keluar dari kondisi tersebut, maka ketika sangkakala Allah berbunyi, kita akan ditinggal dan akan mengalami masa aniaya di bumi.
Secara fisik kita ketahui bahwa orang yang usianya sudah banyak atau lanjut, mereka adalah orang-orang yang sudah dewasa atau sudah tua. Tetapi bukanlah demikian dengan prinsip kedewasaan rohani. Ada banyak orang yang bertahun-tahun ikut Tuhan tetapi kekristenannya tetap kanak-kanak dan tidak mengalami pertumbuhan. Tetapi ada juga orang kristen yang tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai kedewasaan dalam kerohaniannya. Artinya, waktu yang lama seseorang menjadi kristen tidaklah bisa menjamin bahwa seeorang pasti dewasa secara rohani.
Kedewasaan rohani memerlukan hati yang mau belajar dan iman yang  terus mau bertumbuh di dalam Tuhan. Tuhan menginginkan agar setiap kita menjadi orang kristen yang dewasa agar kita layak masuk dalam perjamuan kawin Anak Domba. Dia datang sebagai Mempelai laki-laki maka kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi kristen yang dewasa.

JADILAH DEWASA DALAM IMAN



 

Renungan Minggu Ketiga April 2018


“ HATI YANG BERLIMPAH UCAPAN SYUKUR “
Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!
( Mazmur 50 : 14  )

kapan Saudara terakhir kali mempersembahkan syukur kepada Tuhan?  Banyak orang Kristen bersyukur kepada Tuhan hanya pada saat-saat tertentu yaitu ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, menerima berkat, kesembuhan, atau mengalami mujizat dari Tuhan.  Sikap mereka langsung berubah begitu menghadapi masalah, kesesakan, sakit-penyakit... jangankan mengucap syukur, berdoa saja sudah malas melakukannya.
Ucapan syukur adalah sebuah kata benda abstrak, yang secara garis besar memiliki makna:  Grateful  (berterima kasih kepada Tuhan), Pleasing  (menyenangkan Tuhan), atau Mindful Of Benefits (sadar akan kebaikan, hadiah atau pertolongan).  Inilah sikap hati yang harus dikembangkan dalam hidup orang percaya.  Alkitab memperingatkan:  "Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya."  (Ibrani 13:15). 
'Korban'  adalah  sesuatu yang dipersembahkan, kehilangan, merugi dan sakit secara daging.  "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku."  (Habakuk 3:17-18).  Sesungguhnya situasi atau keadaan tidak mendukung sama sekali untuk mengucap syukur, tetapi Habakuk tidak dikalahkan oleh keadaan yang ada, ia tetap bisa mengucap syukur.  Inilah yang disebut korban syukur!


Bila memahami  "...betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,"  (Efesus 3:18), seharusnya bibir kita tak pernah berhenti bersyukur!