Kamis, 21 September 2017

Renungan Minggu Keempat September 2017



“ HIDUP PENUH KEJUTAN “
"Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan." 
 (Ayub 14:2)
Suatu kenyataan hidup yang tak dapat dipungkiri bahwa perjalanan hidup manusia di dunia ini selalu diwarnai dengan kejutan-kejutan:  kadang ada tawa, sekejap kemudian berganti dengan tangis;  ada keberhasilan, tapi tidak sedikit pula yang harus menelan pahitnya kegagalan.  Kejutan demi kejutan kadangkala seperti sebuah hantaman palu yang datang secara bertubi-tubi.  Kejutan ini bisa menghampiri siapa saja, baik itu orang Kristen awam atau bahkan seorang hamba Tuhan sekalipun.
Kejutan juga menghampiri orang yang paling dekat dengan Tuhan Yesus sekalipun yaitu sebuah keluarga di kota Betania yang sangat mengasihi dan dikasihi Tuhan, yaitu keluarga Marta, Maria dan Lazarus  (baca  Yohanes 11:44).  Kejutan yang amat menyakitkan sengaja diijinkan Tuhan terjadi dan menimpa keluarga ini karena keterlambatan Tuhan Yesus tiba di rumah mereka.  Kematian menimpa salah seorang anggota keluarga ini yaitu Lazarus.  Kita tahu bahwa kematian seseorang selalu membawa kepedihan hati dan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.  Memang, kejutan yang berupa masalah atau pun penderitaan itu bisa menimpa setiap orang, tak terkecuali orang percaya.  Namun satu hal yang menguatkan kita adalah Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan  (baca  Yeremia 29:11).  Di tengah kejutan-kejutan yang terjadi dalam kehidupan ini kita harus percaya  "...bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."  (Roma 8:28).
Jika Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatunya tidak ada perkara yang mustahil bagi orang percaya.  Lazarus, yang walaupun sudah empat hari mati dan dikuburkan, Tuhan sanggup membangkitkannya.  Sungguh, Tuhan Yesus adalah kebangkitan dan hidup  (baca  Yohanes 11:25).  Rasul Paulus menyatakan bahwa Tuhan turut bekerja dalam  'segala sesuatu'.  Kata  'segala sesuatu'  artinya di semua aspek kehidupan kita tanpa terkecuali.

TUHAN MEMAKAI SETIAP  'KEJUTAN'  YANG ADA UNTUK MENYATAKAN KUASA-NYA!

Jumat, 15 September 2017

Renungan Minggu Ketiga September 2017



“ KEJUTAN DARI TUHAN “
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? " ( Kisah Para Rasul 9 : 3 – 4 )

Kejutan adalah salah satu bagian dari tuntunan Tuhan. Bagi Saulus, kejutan itu adalah sinar dari sorga yang menjadi titik balik kehidupannya. Bagi Ananias, permintaan Tuhan untuk menemui Saulus juga sebuah kejutan karena tidak sesuai dengan logika manusia, namun ia taat.
Kejutan yang dari Tuhan selalu melibatkan iman kita. Ketika kita bersentuhan dengan "kejutan" yang Tuhan berikan seperti yang dialami Saulus maupun Ananias, maka iman akan berperan utama karena kita harus benar-benar mempercayai Tuhan.
Suatu saat mungkin kita harus menghadapi "kejutan" Tuhan yang tampaknya menakutkan, di lain hari mungkin berupa permintaan yang mengintimidasi seperti yang dialami Ananias. Kita mungkin ingin melarikan diri dari "kejutan" itu seperti Yunus yang diperintahkan ke Niniwe, atau malah ingin bernegosiasi dengan Tuhan. Jika demikian, maka yang terjadi kita mungkin malah kita harus berputar-putar di padang gurun seperti umat Israel.
Apapun "kejutan" yang telah Tuhan siapkan bagi kita, satu hal yang harus benar-benar kita sadari bahwa Dia tidak pernah bermaksud jahat. Apa yang Ia berikan selalu untuk kebaikan kita. Jadi, mengapa harus takut atau ragu. Miliki iman yang berani, dan melangkahlah keluar dari zona aman seperti Petrus melangkah keluar dari perahu dan berjalan di atas air. Beriman memang beresiko, tapi apa yang kita dapatkan karenanya selalu sepadan. Siap menerima "kejutan" dari Tuhan?

Berjalan bersama Tuhan tidak pernah membosankan, Ia selalu punya kejutan yang akan memacu pertumbuhan iman kita.

Minggu, 03 September 2017

Renungan Minggu Pertama September 2017



“ MENDAHULUKAN TUHAN “
Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.
(Hagai 1:9)

Karena masalah dan kesibukan, kita sering kali lebih memilih untuk berfokus pada hal-hal di luar Tuhan. Pusing memikirkan solusi masalah yang terjadi, sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, atau kita begitu aktif dalam pelayanan di gereja. Semua itu membuat kita lupa meluangkan waktu pribadi dengan Tuhan dan lupa mendahulukan Tuhan. 
Pengalaman semacam itu tidak jauh berbeda dari pengalaman bangsa Israel setelah mereka kembali dari pembuangan di Babel. Awalnya, mereka berencana untuk membangun Bait Allah. Namun, di tengah jalan ternyata ada musuh yang menyerang mereka (Ezr. 4 – 5). Selepas itu, mereka justru lebih berfokus membangun rumah mereka masing-masing dan tidak melanjutkan pembangunan Bait Allah. Tuhan tidak berkenan terhadap sikap dan perbuatan bangsa Israel tersebut. 
Lalu bagaimana kita bisa mendahulukan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari? Dengan menyadari bahwa waktu, materi, dan talenta yang kita miliki semuanya berasal dari Dia. Dalam hal waktu, selain menikmati waktu teduh dengan Tuhan, kita dapat memilih pelayanan tertentu, misalnya mengunjungi warga binaan di lembaga pemasyarakatan. Dalam hal materi, selain menggunakan keuangan keluarga secara bijaksana, mungkin kita dapat memberikan bantuan modal kepada sahabat yang memerlukan bantuan. Dalam hal talenta, mungkin kita dapat memberikan pelatihan gratis untuk anak-anak tidak mampu. Mari kita memikirkan cara-cara kreatif untuk memuliakan Tuhan!

JANGAN SAMPAI MASALAH YANG TERJADI
MEMBUAT KITA LUPA UNTUK MENDAHULUKAN TUHAN

Sabtu, 26 Agustus 2017

Renungan Minggu Keempat Agustus 2017



“ BERKAT MENGAMPUNI “
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”.
 (Matius 18 : 21 - 22)

Jawaban Yesus pada pertanyaan Petrus tentang mengampuni menunjukkan kepada kita bahwa kita mengampuni bukanlah seperti yang ada di dalam pikiran kita yaitu sebanyak tujuh kali, suatu jumlah yang terbatas. Tetapi pengampunan yang tidak terbatas. Kita mengampuni selalu dan selalu. Sama seperti Allah terhadap kita. Allah selalu mengampuni bila kita datang kepada-Nya dengan menyadari, mengakui dan berjanji untuk tidak berbuat dosa lagi (bertobat). Hal ini juga menunjukkan betapa kasih Allah tidak berkesudahan. Maka kita pun sebagai anak-anak-Nya haruslah demikian terhadap saudara (sesama) kita. 
Dalam Doa Bapa Kami kita selalu diingatkan agar mengampuni orang lain. Sebagaimana kita mengampuni orang lain begitu juga Allah akan mengampuni kita. 
Mengampuni akan menjadi obat bagi luka batin setelah kita disakiti, dikhianati atau dikecewakan. Sebab dengan mengampuni hati kita tenang, jiwa kita damai. Mengampuni tidak berarti melupakan kesalahan (dosa) orang lain. Tetapi dengan mengampuni hal itu tidak lagi menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi kita. Mengampuni adalah jalan berbelas kasih pada sesama. Seperti Yesus mengasihi kita, kita pun mengasihi sesama kita dengan mengampuni. Dengan mengampuni menjadi berkat bagi kita dan bagi orang tersebut.

MENGAMPUNI MEMBAWA BERKAT BAGI KITA DAN BAGI ORANG LAIN